Senin, 04 Mei 2015

ilusi

Isi itu Kosong, kosong itu isi
Isi itu kosong, kosong itu isi, segala sesuatu itu ilusi.



Inti pembelajaran adalah tentang ilusi duniawi, bahwa banyak hal yang manusia kejar itu sebenarnya kosong tidak berisi.



Mari kita lihat kalimat pertama: Isi itu kosong.



Sementara Anda memperhatikan layar monitor Anda, perhatikan bahwa tulisan dan gambar di layar monitor Anda itu sebenarnya hanyalah sekumpulan pixel warna tanpa bentuk.



Pixel-pixel itu sendiri pada dasarnya terdiri dari atom-atom yang sebenarnya kosong, dengan ruang kosong yang besar diantara inti atom dan molekul-molekulnya.



Jadi, tidak hanya pixel, semua benda padat, yang kelihatannya ‘berisi’, kalau dibedah ke atom-atomnya, itu sebenarnya ko-song.



Lalu, apa yang dimaksud dengan isi?

 

Kedua, kosong itu isi.



Apakah alam semesta itu kosong?



Tidak!



Di antara ruang ada partikel-partikel cahaya dan juga debu-debu, yang tidak terhitung jumlahnya.



Lalu, apa yang disebut dengan kosong?



Apakah kosong itu disebut kosong karena tidak terlihat oleh mata atau karena tidak terkodekan oleh indra kita yang lain?



Yang sering kita rasakan kosong itu sebenarnya isi.



Dalam meditasi, ketika kita mengosongkan diri, maka sebenarnya kita sedang mengisi.

 

Ketiga, segalanya hanya ilusi.



Ya, banyak manusia yang mengejar ilusi.



Kekayaan, Nama, Wanita, tahta, pengaruh, ketenaran, populer, rumah besar, deposito, semuanya kelihatan begitu berisi, padahal hanya ilusi.



Bahkan, ada manusia yang mengejar ilusi dengan korupsi, atau dengan cara-cara yang dengan sengaja menabrak perintah Ilahi. Apa yang dapat ia bawa ke alam surgawi, nanti?



Jika yang terlihat itu ilusi, apakah tidak sebaiknya kita mengejar yang isi?



Izinkan saya menutup artikel ini dengan sebuah kutipan:



“Kunci untuk memahami diri adalah hati – bukan hati secara fisik melainkan hati yang diberikan Tuhan kepada kita, yang datang kedunia ini sebgai pengelana yang mengunjungi negeri asing dan akan segera kembali ke negeri asalnya”



Semoga bermanfaat.

Kamis, 02 April 2015

Tertawa dapat membuat jatuh cinta

Jakarta - Apa yang Anda cari ketika bicara tentang pasangan ideal? Mungkin tak sedikit yang akan menjawab, "Orang yang bisa membuat saya tertawa."

Dalam survei yang dibuat oleh situs percintaan, Love Struck menemukan bahwa 28 persen wanita akan mengencani pria yang bisa membuatnya tertawa. Meskipun wajahnya tidak atraktif ataupun pilihan busananya kurang fashionable.

Dari penelitian itu juga disebutkan bahwa komedian seperti John Bishop digandrungi 48 persen responden wanita. 25 persen lainnya mengatakan bahwa pria yang bisa membuatnya tertawa akan lebih mungkin mendapat kesempatan kencan kedua. Namun ada 36 persen wanita lainnya yang tetap mementingkan penampilan atraktif sebagai acuan memilih pasangan potensial.

Sebuah penelitian lainnya dari tahun 2009 menyebutkan, wanita akan menganggap pria yang lucu lebih pintar dan bisa dipercaya. Para wanita menjadikan selera humor sebagai indikasi untuk menilai kepintaran seseorang.

"Mereka yang kesepian mengungkapkan bahwa wanita mencari seseorang dengan selera humor yang baik sebagai pasangan potensial. Mereka menjadikan humor sebagai indikasi kepintaran yang membuat pria lebih atraktif," ujar Kristofor McCarty, dari Northumbria University yang membuat studi ini.

Lantas apakah hal ini juga berlaku bagi pandangan pria kepada wanita? Sebanyak 64 persen pria mengatakan jika teman kencannya sangat lucu, itu tak akan memengaruhi penilaian lainnya. Sementara 8 persen lainnya mengatakan bahwa tawa akan mengarahkan ke akhir yang bahagia.